Label

Rabu, 15 Februari 2012

DAMAI ACEH


Menyanyilah langit senja yang menemaramkan surya
Sambut tangan-tangan dewi malam yang menbawa kesunyian
Pada peraduan bambu di tengah ilalang gontai
Dipermainkan jangkrik-jangkrik malam
Hibur hati yang layu bak bunga di musim kemarau
Merana hidup kehausan akan air mata langit yang menyejukkan
Saat berlinang jatuh bercucuran di atas pipi dunia yang mulai renta
Dimakan usianya yang kian bertambah
Buat dia lupa sejenak atau biarkan dia amnesia selamanya
Jangan pernah mengingat kembali raungan bedil yang berpuluh-puluh tahun
Membahana belahan paling barat indonesia ini
Hingga setiap kuduk akan merinding bila mengenangnya
Dan nyalipun menciut menjadi inti atom dengan ukuran nano
Biarkan sungai air mata dan lautan darah itu kering untuk selamanya
Biarkan janda-janda dan anak-anak yatim itu kehilangan sakitnya rasa kehilangan
Yang pernah menyayat hati begitu perih hingga langit ikut bergemuruh
Murka, mungkin tuhan murka dan jijik pada perbuatan manusia yang biadab
Melebihi binatang liar dan buas di hutan belantara selawah yang menjulang
Dan salahkan Dia bila menegurmu dengan tsunami maha dasyat
Yang menyapu hampir seluruh daratan aceh dan beberapa negara dunia
Kelirukah gempa dan guruh yang mengguncang dan memporakporandakan
Negri mu yang berlumuran akan nista yang diciptakan tangan-tangan manusia
Hingga kalian sadar betapa tiada berartinya kekuatan yang kalian punya
Dan dia melunakkan hati mu yang membatu selama ini di Helsinki
Menjabatkan tanganmu yang dulu kaku menebal mengangkat senjata
Menyelipkan senyum di wajah-wajah mu yang dulu kelam di makan amarah dan dendam
Lihat kini dunia yang tua renta itu setidaknya bisa tersenyum kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar